UN 2010 Kacau Balau (Sebuah Opini)


Ujian Nasional SMA dan SMK 2010 dilaksanakan mulai tanggal 22 Maret 2010. Kebetulan saya bertindak sebagai salah seorang panitia non job alias kerjanya belakangan aja. Tugas saya cuma sebagai bagian basis data. Jadi tidak berfungsi waktu pengawasan ujian. Termenung tanpa kerja?… No Way… cari kesibukan, nonton tv dikantor, makan dll.

Berhubung sebagai panitia, tentunya saya membaca dan menonton berita tentang UN di sekolah-sekolah di Indonesia. Itulah yang membuat saya berkesimpulan kacau balau. Keributan media soal bocornya soal UN di berbagai sekolah dan balasan dari Diknas yang memastikan tidak ada soal yang bocor, semua bocoran itu bohong… (media dilawan, mana bisa pak mendiknas).

Nyata-nyata terjadi kok disebut bohong. Mendiknas minta bukti-bukti, wah…. pembodohan atau bodoh-bodohi aja (Bodo kata org jakarta.. alias masa bodo). Yang namanya bukti-bukti minta sama pengacara, polisi, jaksa dsb. bukan dengan kami orang awam. mana berani kami menjerumuskan teman sendiri. Walaupun nampak di depan mata guru-guru tim sukses atau tutor bimbel lagi menjawab soal UN, tetap aja tidak ada yang mau bicara.

Kalau memang mendiknas serius memastikan UN bersih dari pembocoran soal, mestinya disebarkan intel, reserse, polisi, TNI (lebay…) untuk memata-matai guru-guru yang membocorkan soal-soal tersebut. Tertangkap jadi diamankan langsung. Pasti terlihat efek jeranya. Yang namanya barang buku, foto, video, kertas jawaban dsb mana bisa kami carikan, karena bukan urusan kami kan….

Tapi diluar itu, UN itu menjadi begitu ditakuti oleh GURU-GURU tahun ini karena maknanya berbeda dibandingkan EBTANAS dulu. UN walaupun tidak dijadikan standar satu-satunya kelulusan, tetapi masih dianggap sebagai standar utama. Dimata GURU, KEPSEK, DINAS, KABUPATEN/KOTA, jumlah siswa yang lulus UN adalah jumlah harga diri. Jika siswanya ada yang tidak lulus sama saja dengan mencoreng harga dirinya. Apakah itu benar atau dapat dibenarkan?

Dahulu kala, ketika itu masih dilaksanakan sistem EBTANAS, di SMP saya, seperti ada rasa bangga oleh sekolah kalau ada siswa-siswinya berprestasi diluar sekolah, dan siswa yang lulus benar-benar dianggap pantas untuk masuk ke sekolah diatasnya (SLTA). Nah, jika siswa tersebut tidak pantas maka tidak diluluskan oleh sekolah. Jumlah yang tidak lulus semakin banyak semakin terlihat sekolah tersebut selektif meluluskan siswa. Juga dibandingkan dengan Nilai EBTANAS Murni yang didapatkan oleh sekolah tersebut. Nilai tertinggi dan terendah, nilai rata-rata. Insya Allah efeknya semakin banyak calon siswa yang tertarik masuk ke SMP saya. Dan Alumninya dapat dipercaya (gak malu maluin)… sehingga sekolah percaya peningkatan kualitas kelulusan siswa berikutnya akan lebih baik.

Disaat itu terlihat, jujur peningkatan kualitas pendidikan tersebut tidak berupa trik dan intrik. bukan sekedar mengejar image, tapi juga menjamin kualitas. Tapi zaman berubah (tepatnya diubah…), para pemikir yang duduk di puncak pendidikan Indonesia membuat inovasi dan lompatan besar. Teknologi digunakan dalam lembar jawaban, unik sih, tapi sistem ini menjadikan persaingan semakin ketat. Ada pembentukan image suatu daerah (Kabupaten, kota) kalau siswa-siswinya banya yang tidak lulun UN maka daerah itu jatuh harga dirinya. Image itu benar-benar tidak berdasar. karena menurut saya, pendidikan bukan permainan pertandingan.

Peringkat-peringkat palsu tersebut semakin merendahkan moral kita dan anak didik kita. Saya yakin mereka tidak tahu akan dibantu waktu ujian, namun kemudian ketika guru menawarkan bantuan, menerima penawaran permintaan bantuan, dan sejenisnya mulailah pembohongan ini diakarkan, semakin dalam, semakin dalam. Menyedihkan….

Semoga ini menjadi pelajaran untuk mendiknas dan staffnya, bahwa pendidikan bukan permainan. Tidak perlu dilihat berapa persen siswa yang lulus di suatu sekolah jika hanya menjadikan moral bangsa semakin hancur, semakin hilang akarnya. Biarkan sekolah menentukan standar khusus siswa yang pantas untuk diluluskan, Bapak Menteri cukup membuatkan standar umum untuk membangun pendidikan Indonesia. Saya yakin masyarakat kita bijaksana, dapat melihat yang tersurat dan yang tersirat, apa dan bagaimana seseorang, instansi pendidikan, sekolah dan sebagainya. Pantas dan tidaknya sekolah tersebut dipertahankan akan terlihat dari Alumninya yang baik dimata masyarakat, tempat kerjanya, kampusnya dan sebagainya.

Kemudian saya sangat berharap Mendiknas mengembalikan pengembangan kepribadian dan moral siswa diatas skill apapun yang ditawarkan, karena terbukti bahwa otak kanan dikendalikan oleh moralnya, sedangkan otak kanan merupakan hal paling disoroti saat ini sebagai hal yang paling dikembangkan saat ini.

Semoga Allah me-rahmati dunia pendidikan Indonesia, kembali ke puncak dunia. Amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: