Pendidikan Indonesia saat ini bagaimana?


Hari ini adalah hari pembagian rapor kenaikan kelas untuk peserta didikku. Kata peserta didik sekarang dijadikan pengganti siswa/siswi yang biasa digunakan. Bagi saya kata ini tidak asing karena di kegiatan kepramukaan kami biasa menggunakan kata peserta didik karena maknanya lebih dalam. Sebelum menerima rapor ada beberapa tahapan yang telah dilalui oleh guru, walikelas dan peserta didik sendiri. Saya pun termasuk paling aktif di dalamnya.

Sebagai guru jurusan di SMK, tentu materi ulangan umum saya ada yang bersifat praktek, dan ada pula yang bersifat teori. sebagian orang berfikir bahwa penilaian dalam ulangan umum ini akan berbeda, tapi menurut saya kurang lebih sama saja. Yang saya soroti disini adalah perubahan signifikan pola pendidikan atau tepatnya kesempatan penilaian untuk peserta didik.

Saya adalah rombongan terakhir pola pendidikan lama kurikulum 1994, yang merasakan juga sedikit percobaan pola pendidikan baru, dari peralihan sistem semester ke catur wulan kemudian ke semester lagi. Tapi belum pernah saya merasakan sebagai peserta didik pola seperti sekarang ini. Sebagai guru, saya mencoba mengikuti pola yang diberikan oleh pengawas sekolah dalam suatu pembekalan guru. Namun saya menarik kesimpulan ada baik dan buruknya pola seperti sekarang ini. ini yang saya rasakan dalam pendidikan yang dilaksanakan di sekolah yang saya menjadi guru di dalamnya, SMK NEGERI 6 PEKANBARU.

Untuk diketahui saya telah menuntaskan pengabdian ini selama 2 tahun, masih muda. Tahapan yang saya rasakan adalah PESERTA DIDIK WAJIB MENUNTASKAN KKM yang ditetapkan oleh guru. KKM itu pengganti batas merah rapor seperti masa saya dulu. bedanya dulu kalau nilai di bawah 6 (60) maka otomatis itu di bawah standar alias merah, sedangkan sekarang KKM itu ditetapkan dengan rumus tertentu dan cenderung diatas angka 6 tersebut. bahkan di mata pelajaran kejuruan harus wajib diatas 7 (70) KKM yang ditetapkan. Ini merupakan tantangan yang saya terima, dan saya mengajak peserta didik menerimanya, saya harus terus menyemangati mereka agar berusaha mencapai KKM yang telah ditetapkan.

Tahapan kedua ADA TUGAS MANDIRI, ADA TUGAS TERSTRUKTUR. Bagian ini mungkin sudah pernah saya lewati dulu sebagai peserta didik, cuma sekarang sudah punya jenis. Tugas-tugas ini kebanyakan disimpulkan dari sumber-sumber internet, buku-buku perpustakaan (berhubung perpustakaan kami cuma ada dijurusan jadi tidak berfungsi), juga opini masing-masing. Tugas ini punya tenggat waktu yang jelas dan punya bobot nilai yang jelas. saya setuju terhadap pola ini.

Tahapan ketiga,  ADA ULANGAN, ADA JUGA ULANGAN MID SEMESTER DAN TERAKHIR ADA ULANGAN UMUM. Tahapan ini benar-benar merepotkan saya. Semua ulangan ini wajib tuntas standar KKM, jika tidak tercapai peserta didik dapat (harus) melakukan remedial. Remedial ini adalah perbaikan nilai jika belum tercapai nilai KKM. Jika tidak tercapai, peserta didik dapat diberikan pengayaan kemudian diujikan lagi dalam remedial. Inilah enaknya anak sekarang. Saya tidak habis pikir, tuan-tuan pencipta atau penemu pola ini sudah menimbang beban guru atau tidak. Peserta didik bukan hanya mendapatkan kesempatan kedua, tapi juga ketiga sampai sebanyak-banyaknya untuk memperbaiki nilai. Dari luar kita melihat bahwa pola ini baik, karena ulangan kan tidak selalu memberikan  citra belajar anak 100% karena bisa saja dia gagal karena sedang tidak siap untuk ulangan dengan alasan sakit, kemalangan, stress dan lain-lain. Tapi kesempatan ini dijadikan tameng oleh peserta didik untuk bermalas-malasan dan tidak menjaga kesehatan dan keselamatan.

Ini buktinya, peserta didik-peserta didik saya paling suka tidak menyelesaikan ulangan demi memastikan soal ulangannya dulu. jadi mereka memilih gagal ulangan, kemudian remedial. Toh, pasti ada kesempatan remedial. Jadi saya sering mengadakan remedial 1 kelas, dan saya dicap gagal mendidik anak. Mungkin saya gagal. Kalau mereka gagal, mereka minta pengayaan, lebih mudah dapat nilai karena bisa jadi dapat tugas, kemudian sudah sedikit mengerjakan tugas mereka minta remedial lagi dengan soal yang lebih mudah karena nilainya sudah diangsur waktu tugas pengayaan tersebut. Bahkan ada yang minta les private gratis sebagai pengayaan.

Peserta didik-peserta didik saya suka menunda-nunda tugas, meremehkan pelajaran, meremehkan guru, tidak masuk pelajaran (izin ke toilet tapi tidak pernah kembali), karena pola kita adalah NILAI ULANGAN. Sudah pernah saya buat perjanjian, tapi kita terlalu sayang dengan anak, sehingga hukuman akhlak buruk ini pun tak setimpal. Soal kehadiran menentukan dalam nilai, memang diterapkan. tapi nanti diakhir semester semua dimaafkan oleh guru tersebut, karena teknik peserta didik merayu dan menghiba telah berhasil meluluhkan hati guru. Teknik inipun didapat mereka juga dari guru yang lainnya.

Pola lama yang saya ikuti banyak orientasi nilai moral, ulangan cuma 1 kali dan tidak ada remedial. Sekilas kita menganggap bahwa pola baru sekarang ini adalah implementasi memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak Indonesia untuk bersekolah, tapi efek sampingnya bisa jadi tidak terkendali seperti pada pelajaran saya ini.

Maka datanglah saat akhir semester. Tugas akhir semester telah memanggil lagi setelah diberikan pada awal semester. Semua peserta didik berteriak kaget karena tugasnya belum dikerjakan sama sekali. Padahal tugas ini sebenarnya sudah bisa diangsur dikerjakan sejak 1 bulan mereka belajar di semester ini. Kebiasaan memang, menunda-nunda tugas. Akhirnya ketidakjujurun harus dilaksanakan, mereka mulai mengcopy paste tugas orang lain, kemudian dirombak disana-sini sedikit agar berlabelkan nama mereka. Praktek kecurangan ini terpaksa dibuat atau tugas tidak akan siap. Kalau saya membuat keputusan tugas ini saya tolak karena curang. Kalau moralnya rusak, lebih baik gagal saja. kemudian peristiwa ini berlanjut di ulangan umum, sesuai dengan planning mereka, ulangan umum ini ditanggapi dingin saja. Tidak ada perubahan pola belajar alias tidak perlu belajar di rumah. Padahal untuk menggenjot KKM, kisi-kisi soal sudah saya berikan untuk materi ulangan teori, dan soal praktek sudah saya buka duluan (2 minggu sebelum kejadian), sehingga mereka bisa siap-siap. Tapi tetap aja mereka menunggu hasil remedial saja.

Pada waktu remedial hampir 1 kelas mengikuti, dan menelorkan separuh kelas berhasil menuntaskan. Separuhnya lagi ternyata menunggu tugas pengayaan. ada yang saya berikan pengayaan dengan tugas ada juga dengan bimbingan antar teman. Sebagian berhasil di remedial berikutnya. tapi sebagian lagi masih berniat menunggu dari awal diberikan tugas anak TK, membuat gambar dinding. Gila… pendidikan macam apa ini?, saya pikir. saya menolak memberikan tugas karena nilainya masih kurang 20 poin lagi, enak sekali dapat nilai tambahan dari kerjaan anak TK. mereka minta tugas beli Buku Cetak buat pustaka kami di jurusan. Bisa juga lah, otak matre saya muncul juga, lumayan tidak perlu mencari dana lagi untuk tambahan koleksi buku. tapi itu tidak mungkin mengangkat nilai 20 poin, paling cuma 5 – 10 poin saja. terus begitu mencari cara untuk meningkatkan nilai tanpa melewati proses belajar yang seharusnya. Meminta dimaafkan terus, agar nilainya tercapai. Padahal nilai yang tidak bagus tersebut adalah hasil dari kemalasan mereka yang terlalu, dalam belajar. Seperti tidak menyelesaikan jobsheet, tidak hadir di pelajaran ataupun pelajaran tambahan, dan lain-lain.

Ketika nilainya jelek tersebut, orang tualah yang paling marah dengan guru. Pertanyaan mereka yang paling sering disampaikan adalah, kenapa selama ini saya tidak diberitahu soal ini?, anak saya baik di rumah, mengerjakan tugas dari guru. Saya pikir benar juga, orang tua kan tidak tahu. Tapi ini berbeda sekali dengan pola zaman saya sekolah dulu.

Orang tua saya dan teman-teman saya tidak pernah protes kalau nilai anaknya jelek. Karena mereka menyerahkan sepenuhnya kepada guru untuk mendidik anaknya disekolah, dan bersedia menerima hasil akhir apapun yang diberikan oleh guru. sedangkan di rumah tugas orang tualah yang mendidik anaknya, membimbing dengan kasih sayang agar kegiatan sekolah dapat didukung dengan baik. ditengah ini anaklah harus pro aktif melaporkan ke orang tua kegiatan belajarnya di sekolah.

Dulu tidak ada remedial, tidak ada pengayaan. Hasil akhir dipikirkan sendiri oleh guru, tanpa rayuan peserta didik. sehingga peserta didik tidak pernah terfikirkan untuk lalai ataupun mengakali pendidikannya agar dapat nilai tanpa belajar. tidak ada negosiasi nilai rapor, yang layak maka naik kelas, yang tidak layak didik ulang tahun berikutnya. lurus dan sederhana saja. Saya mengerti semua adalah imbas dari KKM yang dibuat oleh guru. Karena KKM selalu sedikit lebih tinggi dari kemampuan rata-rata peserta didik. tapi menurut saya pola yang terbuka seperti sekarang ini mengundang peserta didik untuk mengakali sistem, berbuat curang dan hanya mengejar nilai bukan proses belajar.

Namun diatas semua ini, ada pola berikutnya PENENTUAN KENAIKAN KELAS, KESEMPATAN PERBAIKAN LAGI. Ini luar biasa !!!, setelah peserta didik tidak mencapai KKM di semester ganjil, peserta didik dapat melakukan perbaikan pada semester genap. Sehingga nilai Tidak Tuntas yang tertera di rapor dapat dihapus dan diganti menjadi tuntas. ini pun ditunggu hinggu kenaikan kelas. Nilai Semester genap menentukan kenaikan kelas. Aturan mainnya, nilai rapor maksimal 3 tidak tuntas pada pelajaran normative dan adaptif. dan Tuntas semua pada pelajaran Produktif kejuruan. Saat-saat ini lah terjadi negosiasi nilai, karena walikelas dan guru terbuka sekali terhadap nilai akhir peserta didik. Peserta didik dapat menanyakan nilai rapornya kemudian mengadakan perbaikan sebanyak mungkin sampai nilainya tercapai atau Tuntas.  Luar Biasa!!!. Disini terjadi negosiasi nilai yang alot, antara guru yang berusaha mempertahankan idealisme nya tapi juga kasihan dengan peserta didik yang gagal, juga peserta didik yang berusaha menegosiasi nilai tanpa harus memenuhi standar kemampuan belajar yang ditetapkan. akhirnya tercapaikan hasil akhir nilai.

Beberapa orang yang tidak berhasil terjaring dalam bursa calon peserta didik tinggal kelas dalam rapat kenaikan kelas. Kembali hal mengejutkan terjadi. Entah karena tidak perduli dengan kualitas, atau takut dihujat orang tua peserta didik atau juga takut dicap gagal mendidik peserta didik. Pada kesimpulannya para guru  TAKUT untuk menggagalkan peserta didik yang memang pantas digagalkan. Aturan main 3-0 tadi telah tercapai, namun kembali dinegosiasi dalam rapat menjadi 4-1 atau 4 pelajaran normative dan adaptif, serta 1 pelajaran kejuruan tidak tuntas dapat naik kelas bersyarat ( istilah yang aneh…), setelah diberikan kelonggaran tersebut ada juga lagi yang mengajukan kelonggaran lain. secara pribadi jika peserta didik tersebut baik akhlaknya, naik kan saja lah biarpun kejuruannya tidak tuntas 2 atau 3 buah. Luar Biasa Kuadrat!!!…..

Apa ini yang terjadi?. Tangguk longgar, kentang busukpun bisa lolos naik kelas. Guru tersebut mungkin tidak mengerti bahwa pelajaran kejuruan itu selalu bersambung. jika semester sebelumnya tidak tuntas, maka peserta didik tersebut tidak layak mengikuti kelanjutan pelajaran berikutnya. Dia pasti bingung dengan materi berikutnya yang semakin rumit untuk orang awam,  ah… entah lah….

Saya terpaksa ikut-ikutan menyelamatkan 1 orang peserta didik saya yang sudah tidak perduli mau naik kelas atau tidak, siapa tau masih bisa dibimbing. Tapi 4 orang lainnya tidak bersedia saya tolong, karena mereka sendiripun tidak berusaha bertahan selama 1 tahun ini. terlalu banyak tidak tuntasnya pada pola yang paling longgar ini.

Saya mengambil kesimpulan, bahwa ada banyak pergeseran nilai pada pendidikan Indonesia. Seperti ekonomi liberal amerika yang berjangkit di pendidikan Indonesia. Siapa yang mau berusaha akan menjadi anak bangsa terbaik, karena KKM terus ditingkatkan. Tapi yang tidak mau tetap dapat naik kelas tanpa terisi otaknya, kemudian jadi sampah di masyarakat karena kali kali saja tidak pandai, apalagi memikirkan algoritma pemograman. Pada akhirnya akan terbentuk 2 blok anak bangsa yang menggantikan generasi sekarang ini, yaitu kaum yang pandai (entahlah akhlaknya karena tidak pernah diperhatikan), dan kaum yang dibodohi (mungkin tidak bodoh, cuma tidak pernah belajar saja), ada lagi 1 kali kaum yang memang bodoh (berniat jadi bodoh karena tidak mau melawati proses belajar yang seharusnya terjadi).

Entah siapa yang menciptakan pola pendidikan sekarang ini, tapi kepadamu saya menitipkan saran, mohon pola pendidikan sekarang ini ditinjau kembali. Karena saya melihat kerapuhan dibalik kemegahan pendidikan di Indonesia ini. Anak-anak kampung sini, tidak tahan dengan godaan kemudahan mendapat nilai seperti ini. Mohon digantikan dengan mengutamakan moral dan berjuang melewati proses. Bukan berjuang mengatur nilai akhir.

Terima kasih buat teman-teman yang mau membaca artikel saya ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: