Kementrian Agama RI seharusnya Tidak begini terhadap tenaga honorernya


Logo KemenagAssalamu’alaikum…..

lama tidak menulis, kali ini saya ingin menyampaikan sedikit pengalaman saya mengenai kerjasama dengan kementrian agama. Sepertinya saya akan pikir 10 kali buat kerjasama lagi sebagai akibat prosedur yang aneh ini.

Awalnya saya menawarkan diri menjadi pembina pramuka di salah satu instansi yaitu MTsN Bukit Raya Pekanbaru, sebenarnya minat saya tersebut datang karena mendengar bahwa sekolah tersebut sudah ditinggalkan begitu saja oleh pembinanya. Saya dan istri yang kebetulan sama-sama pembina pramuka mencoba menawarkan diri siapa tau tempat ini bagus untuk ke depannya. Setelah ketemu dengan pembina osisnya, disampaikan bahwa honornya lumayan, tapi yang paling ndak enak itu pembayarannya per 6 bulan. Bagi saya itu agak berat, tapi tak apalah toh bukan pekerjaan utama, cuma hobi dan pengabdian. Akhirnya saya menjalani kegiatan membina pramuka disana dengan biaya sendiri, harapannya nanti setelah 6 bulan setidaknya biaya yang telah saya keluarkan untuk transport dan lainnya diganti dengan honorarium tersebut.

Sayang sekali setelah 6 bulan, saya pikir honor saya dibayarkan dari  dana internal sekolah (semacam uang bayaran SPP atau komite) ternyata diambil dari kemenag langsung. artinya saya harus menunggu pencairan dari pengajuan sekolah ke kemenag. bukannya sebentar, banyak sekali hal yang akan dicairkan, tentu butuh tanda tangan dan koordinasi yang lama. wah, ternyata sudah 8 bulan blum juga cair, kami akhirnya berulang-ulang menelepon, sampai bendaharanya bosan.

Saya yang tidak mengerti tentang prosedur di kemenag tak bisa percaya, honor yang sedikit itu begitu lama cairnya, hingga sang bendahara mengeluarkan makian dan kata2 kotor yang tak layak disampaikan seorang ibu dan mengerti agama pula. setelah honor cair, semakin geleng-geleng saya, karena bendahara memotong honor kami (semuanya) total 600.000 untuk biaya dia menguruskan dan dari pajak juga dipotong 5%.

Alkisah, kami kecewa nih perlakuan tak manusiawi dari salah satu instansi di kemenag ini. Kami memutuskan untuk tidak lagi membina pramuka disana. Sebenarnya bukan karena honor itu yang utama, tapi perlakuan bendahara yang menghina dan kepsek yang tidak jelas ceritanya.

Nah, beberapa minggu yang lalu saya ditawarkan juga menjadi dosen di UIN Suska Riau, salah satu instansi kemenag bidang pendidikan universitas. Kebetulan ada peluang menggantikan dosen yang suka bolos mengajar, kata informan yang menawarkan peluang ini. Saya coba saja melamar dengan pertimbangan lumayan menambah uang dapur. Karena saya tinggal sangat jauh dari UIN Suska, ketika mengantar lamaran saya nekat bertanya soal honor dosen. Ampun deeehh…. rupanya tak jauh berbeda perlakuannya dengan pengalaman saya sebelumnya.

Honornya masih banyakan di kampus swasta tempat mengajar saya (bayangin, uang kuliah di UIN itu lebih mahal dari kampus swasta, dosennya PNS alias dibayar negara, honorer dibayar lebih rendah dari swasta. Tak masuk akal).  Yang paling mengejutkan, pembayarannya setelah 6 bulan kuliah berlalu, trus kira2 sebulan pengurusannya. jadi bulan ke 8 baru cair honornya. Waduh…. emang saya gak makan pak…. pusing saya. Nekat saya bertanya sama kajurnya “emang honornya keluarnya dari mana pak?”.  ini jawabannya.

“honornya diajukan dulu ke kemenag, nanti sebulan baru cair, baru dibagikan. semuanya termasuk honor mengajar, mengawas ujian, menilai jawaban, apa pun lah digabung”.  Wah, ndak asik nih kemenag. saya kan punya keluarga, bagaimana nasib para honorer lainnya ya ?.

Bapak-bapak penentu kebijakan dan prosedur di kemenag, benar-benar saya tak habis pikir, dari mana datangnya prosedur yang gila itu. Bukankah agama kita mengatakan “bayarkan upah pekerjamu sebelum keringatnya kering “.  Anda sudah berbuat aniaya dengan para honorer anda. Tak terfikirkan kah oleh anda, ada anak dan istri mereka mengharapkan rezeki dari suami dan ayah yang berjuang diluar rumah?. Ada hutang yang harus dibayar karna anda tak membayarkan honornya sebelum keringatnya kering. Anda benar-benar telah berbuat aniaya. Allah tidak suka terhadap orang-orang yang berbuat aniaya.

semoga dapat dicermati oleh para pembuat prosedur dan kebijakan dipusat sana.

Wassalam

One Response

  1. memang sungguh di sayangkan manajemen di kemenag hampir sama di semua daerahnya, jauh bila dibandingkan dengan kemdiknas, repormasi borokrasi wajib hukumnya bagi kemenag dari lepel pusat sampai bawah,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: