Mengikuti Training Parenting Abah Ihsan


Sabtu-Minggu, 10-11 Oktober 2015, digelar seminar/Training “Yuk jadi Orang tua shaleh” dengan trainer motivator Abah Ihsan. Sebenarnya gak kenal sama orang ini, atau memang saya kurang gaul ya. mengenal parenting sih udah lama, baca-baca bukunya juga ada. tapi yang namanya abah Ihsan serius deh saya gak kenal. So, diawal gak tertarik duduk lama-lama. Tapi karena udah bayar mahal (udah dapat diskon dibilang mahal, hahahaha), maka terpaksa pasang niat baik. masak bayar mahal-mahal gini gak dapat ilmunya.

ADHWA Anak ke-2Fitri, anak Pertama

Ada hal yang harus sama-sama kita maklumi kalau ikut seminar motivasi yang pembicaranya ngakunya sudah go internasional yaitu bahwa mereka lulusan NLP dan sejenisnya yang juga kelas internasional. Seperti sekolah motivatornya Anthony Robin di Amerika. Logikanya, kalau berani ikut sekolah seperti itu (mahal tau, sekolahnya), pasti buat dapatin yang lebih gede kan. Nah, mereka sudah disiapkan jadi professional. Namun bukan berarti mereka seumur-umur paling benar dalam bidangnya (dalam hal ini parenting). Saya yakin pembicara ini sudah meneliti setidaknya 5 tahun dengan professional mengenai parenting sehingga merasa bisa memberikan manfaat besar bagi peserta seminarnya, kalau gak pasti setelah ini gak bakalan laku.

Dalam training yang disampaikan dengan lugas serta penuh dengan canda tawa, naik turun emosi ada banyak hal yang dapat jadi pelajaran penting disini. maaf saya tidak bisa membuka isi seminarnya semuanya (gak ingat lagi…hahhaha), tapi beberapa hal bisa lah dishare disini :

  1.  Anak itu Anugrah, bukan beban. Mindset kita harus diubah, Alhamdulillah saya dari awal sebelum menikah sudah membuat mindset demikian.
    Ternyata banyak yang beranggapan bahwa anak itu adalah beban. Dalam training tersebut bahkan ada yang tegas menyatakan bahwa anak itu adalah BEBAN. Nah, kita harus merenung. kenapa bisa kita berfikir demikian, dari mana datangnya anak adalah beban. coba kaitnya dengan hadirnya anak tersebut, apakah anak itu lebih banyak memberi atau meminta?. silahkan Tanya pada diri sendiri. rata-rata bilang anak itu banyak meminta. tapi coba merenung sekali lagi, dari 24 jam sehari waktu kita, ada berapa kali dia meminta? banyak ?, ada berapa kali dia memberi? tidak pernah ?, benarkah ?. waktu dia bangun pagi memandang wajahnya saja membuat kita tersenyum, itu sudah memberi. ok kita flashback lagi ketika dia lahir, bukankah berkat dia Allah menambahkan rezeki kita dengan memasukkan rezekinya kepada kita?, apakah kita jadi makin miskin ketika dia lahir ?. kalau saya justru setiap anak lahir ada aja rezeki yang bertambah, bahkan sekarang semakin meningkat kondisi kesejahteraan keluarga kami. Jangan sombong itu adalah hasil pencarian kita, itu juga termasuk pengaruhnya. sementara kesimpulannya karena kita sering focus kepada waktu dia meminta, kita pikir bahwa anak itu sering meminta daripada memberi. padahal anak itu tidak pernah ngasih tau memberi tapi ternyata telah memberi.
  2. Bukan anak yang harus dikonsultasikan ke psikolog, orang tua lah yang harus ke psikolog. saya rasa ada benarnya, misalnya anak kita sering ndak nurut, gak focus dan sebagainya. dibawa ke dokter, ke psikiater atau psikolog, bahkan dirukyah, tetap aja gak ada perubahan. ternyata sikap kita dalam mendidik anak yang kurang tepat. sehingga membekas ke dalam bawah sadarnya dan menjadikan dia demikian.
  3. Bukan Anak yang bodoh, tapi kita orang tua kurang SKILL dalam mendidik anak. Sering kita mengatakan seperti ini “anak pertama saya ini rajin, kalau belajar tanpa disuruh udah jalan sendiri aja. gampang. juara kelas. tapi anak kedua saya ya ampunnn, bodoh, sulit dikasih tau, main aja kerjanya, mandi aja lupa apa lagi belajar”. apa benar begitu, anak itu dicap bodoh atau orang tua dari awal salah mendidiknya. pintar itu berdasarkan apa?, bodoh juga berdasarkan apa ?. banyak anak yang autis tapi memecahkan rekor dunia, bermanfaat bagi orang lain. banyak orang yang iqnya bagus, raportnya 8 dan 9 aja isinya, akhirnya jadi rampok. Skill kita yang harus di upgrade rasanya.
  4. Bagi kita bermain itu ya main-main, tapi bagi anak bermain itu serius belajarnya alias penting. Jangan sepelekan waktu bermain anak, ternyata dalam proses bermainnya seluruh  dirinya baik fisik maupun mental bergerak, belajar dan berkembang. dia menguji ketangguhan fisiknya, emosi, sosialnya, mental, fikirannya, instingnya dan lain sebagainya. tapi jika kita biarkan atau malah mengurungnya di rumah saja atau sibuk les dan sekolah saja dengan alasan ini dan itu, nanti anak itu kurang berkembang secara sempurna, mungkin cerdas secara matematika, tapi tidak peka dengan lingkungan. lemah dalam berkomunikasi, inisiatif, bahkan mudah tergoda korupsi.
  5. Label menentukan isi, jangan beri label negatif pada pikiran bawah sadar anak. Nah, ini yang berat, saya mikirnya lama. ini maksudnya apa ?. kita bicara pada anak, salah satu kalimat kita “sayang, jangan malas belajar ya…”. bukan kata jangan yang bermasalah, tapi cara otak bawah sadar yang menerima yang harus diperhatikan. otak otomatis berkesimpulan “biasanya aku pemalas ya..”, kemudian disederhanakan jadi “aku  pemalas”. anak tidak akan protes dengan label “aku pemalas”, tapi itu kan nempel terus. contoh lain, “sayang, papa pulang…. kamu nakal tadi ya dirumah ?”. nah, disitu tidak ada kata jangan tapi maknanya walaupun buat lucu-lucuan anak menempelkan diotaknya “aku biasanya nakal”. Wah, gua banget. agak sulit mengubah kalimat yang sering kita ucapkan ini, tapi demi perkembangan anak, harus sering latihan terus sama istri.

segitu dulu ya, nanti perkembangan anak hari kehari saya tuliskan di category “Parenting” ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: